Jumat, 19 Oktober 2012

Tersenyumlah ^^


Ibtasim (tersenyumlah), begitulah kata pembuka Dr. Aidh Al-Qorni dari buku yang saya baca (Hiduplah untuk Bahagia).  Dr. Aidh Al-Qorni mengutarakan kata Ibtasim adalah sebuah kata indah dan penuh pesona.  Bagaimana seorang muslim tidak akan tersenyum, sementara ia menerima sepenuh hati Alloh SWT sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad SAW sebagai nabinya (Rodhitubillahi Robba, wabil Islami dina, wabi Muhammadin nabiyyawwarosula).  Bagaimana seorang muslim tidak akan tersenyum, sedang Alloh SWT telah menyuburkan kebun-kebun yang hijau nan indah, pelbagai jenis tumbuhan yang berpasangan tumbuh dengan eloknya, beludru yang indah turut menghiasinya, serta aliran air turut menyempurnakan keindahannya.  Bagaimana seorang muslim tidak akan tersenyum, ketika Alloh SWT telah menciptakan bintang-bintang yang generlapan, laut pasang dengan debur ombaknya, bentangan bumi dengan lembahnya, serta planet-planet dengan gugusannya.  Bagaimana seorang muslim tidak akan tersenyum, ketika merdu kicau burung dan merpati mengalun, matahari terbit dan bulan yang purnama, pagi menyapa dengan secercah cahaya dan embun segarnya, dan hujan yang menerobos gumpalan awan.  Bagaimana seorang muslim tidak akan tersenyum, ketika belaian semilir angin, lambaian dedaunan, nyanyian burung kenari, semerbak pohon Uqhuwan, semerbak aroma bunga-bunga, serta bisikan gemericik air di sela-sela bebatuan membacakan ayat-ayat cinta dan mengisahkan kisah-kisah pesona.
Buku yang saya baca “Hiduplah untuk Bahagia” begitulah judulnya, mengandung ulasan-ulasan yang menyegarkan pikiran, teguran-teguran yang lucu, kelakar yang santun dengan menyajikan aspek keluhuran ajaran agama dan membuang jauh segala kerendahan dan kenistaan.  Semuanya Dr. Aidh Al-Qorni persembahkan untuk kita resapi bilhikmah, agar kita dapat tersenyum di tengah pusaran badai dalam perjalanan menempuh kehidupan yang penuh onak duri, dan di hari-hari yang tak lagi secerah kemarin bahkan entah kapan menyapa hati kita.  Semoga Alloh SWT menebar kebahagiaan untuk kita.  Selamat menjalani hidup dengan penuh canda ceria, selamat tinggal duka, selamat tingal lara.


Orang-orang Cina mengatakan dalam pesan bijak yang selalu diajarkan turun temurun, “Orang yang tidak bisa tersenyum jangan membuka usaha.”
Abu Darda’ berkata, “Tidak jarang saya menghibur hati saya denga canda yang wajar (diperbolehkan) untuk membangkitkan motivasi dalam menegakkan kebenaran.”
Pesan sebuah pepatah bijak (hikmah):
“Tersenyumlah kepada orang yang memberi pinjaman uang, maka ia akan memberi kelonggaran.  Tersenyumlah kepada sahabatmu, maka ia akan memberikan pembelaan.”
Dalam al-‘Aqd al-Farid dijelaskan bahwa Yohana dan Syam’un termasuk kaum Hawariyyin (murid nabi Isa As.).  Jika yohana duduk di sebuah majelis, ia selalu hadir dengan humor-humor segarnya, sehingga membuat orang lain yang hadir ikut tertawa.  Sedang Syam’un hadir dengan kesedihannya, sehingga membuat orang-orang yang hadir dalam majelisnya ikut tenggelam dalam kesedihan.  Suatu ketika, Syam’un menegur Yohana.
“Anda selalu tertawa seolah amal kebaikan Anda sudah banyak dan tidak perlu lagi beramal.”
Yohana menjawab, “Anda selalu sedih dan menangis seolah Anda sudah putus asa terhadap rahmat Tuhan Anda.”
Maka Alloh SWT menurunkan wahyu kepada nabi Isa As.: “Perilaku Yohana itulah yang lebih Aku senangi diantara dua sikap itu.”
Al-Ashmu’I mengatakan: “Dengan bekerja kita dapat mencapai tujuan, dan dengan tersenyum kita dapat meraihnya.”
Karena, dengan tersenyum kita telah menggerakan tiga belas otot kita sekaligus.
Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa orang-orang yang sering tertawa dan murah senyum adalah orang-orang yang paling sedikit mengalami pengerutan di kulit wajah karena termakan usia.
Tawa adalah perilaku yang menarik simpati
Dan keramahan saat dimintai kemurahan hati

Engkau melihatnya tampak berseri muka
 Seolah Engkau telah memberi yang ia minta.

Saya bercanda dengan canda yang wajar
Jika orang sedang serius, maka saya juga serius.

Hasan Al-Bashri berpesan bahwa hati ini bisa hidup dan bisa mati.  Jika hidup, ajaklah untuk melakukan hal yang disunnahkan.  Jika ia mati, ajaklah untuk melakukan yang diwajibkan.
Atha’ bin Saib menceritakan bahwa Sa’id bin Zubair pernah menyampaikan suatu kisah sedih kepada kami, sehingga membuat kami menangis.  Tidak lama setelah itu, ia membuat kami tertawa.
Dalam Faidh al-Katsir, Ahmad Amin mengatakan, “Senyum bukan saja membuat seseorang lebih bahagia dengan keadaan dirinya, tapi juga lebih mampu memikul tanggung jawab, lebih tangguh menghadapi kesulitan, dan lebih kreatif dalam menyelesaikan masalah, serta lebih mampu memberikan hal-hal besar yang bermanfaat kepada dirinya sendiri dan orang lain.
Jiwa yang selalu mampu menghadirkan senyum akan melihat kesulitan dengan lebih tenang untuk kemudian mengatasinya.  Ia akan melihat kesulitan sambil tersenyum, berikutnya menghadapinya dengan senyum, kemudiaan mengatasinya dengan senyum pula.  Sedang, jiwa yang gundah, ketika melihat kesulitan, ia akan membesar-besarkannya.  Hal itu dapat mengerdilkan semangat untuk menghadapinya, sehingga ia akan berusaha lari dari kesulitan itu, berlindung di balik tempat berlindungnya sambil mengumpat situasi dan kondisi yang terjadi.  Maka, komentar yang akan selalu keluar dari mulutnya adalah “seandainya, jika, dan kalau saja”.  Padahal, situasi dan kondisi yang ia kecam itu merupakan hasil dari karakter yang membentuk kepribadiannya sendiri.  Ia ingin sukses dalam kehidupan tanpa pengorbanan.  Seolah ia selalu melihat ancaman yang siap menyerang di sepanjang jalan kehidupan yang dilaluinya.  Ia hanya bisa menunggu langit menurunkan hujan emas dan mengharap bumi mengeluarkan harta karunnya.
Keputusasaan adalah hal yang paling membuat jiwa sedih dan dan wajah kusut.  Jika kita ingin selalu tersenyum, perangilah keputusasaan.  Bangunlah karakter optimis, harapan yang terbentang luas, serta keyakinan akan datangnya kebaikan di masa yang akan akan datang.
Dia bilang, langit sedang mendung dan sama sekali tidak cerah.
Saya bilang, tersenyumlah, cukup mendung itu di langit saja.
Dia bilang, masa muda telah berlalu.
Saya katakan, tersenyumlah.
Penyesalan takan pernah mengembalikan masa muda yang telah berlal
Dia katakana, senyum tidak akan bisa membuat siapapun bahagia.  Ia hanya hadir di dunia dan pergi dengan terpaksa.
Saya bilang, tersenyumlah selama masih ada jarak sehasta antara kita dengan kematian.  Karena setelah itu takan ada senyum dalam kehidupan.
[syair indah Ilia Abu Madhi]

“Alloh SWT menurunkan wahyu kepadaku agar kalian saling rendah hati, sehingga tidak ada salah seorang yang berlaku curang kepada orang lain dan tak ada yang membagakan diri atas yang lain.”
“Senyummu dihadapan saudara (seagama) mu adalah sedekah”

“Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron, 3:159)


Konon, ada orang menitip uang kepada orang lain.  Lalu ia meminta kembali titipannya itu.  Tapi orang yang menerima titipan itu tidak mengaku telah menerima titipan itu.  Terpaksa penitip uang itu mengadukan masalah tersebut kepada Qadhi Iyas.  Ia melaporkan:
“Saya  meminta uang yang saya titipkan kepadanya.  Jumlahnya sekian.”
“Ada saksinya ketika engkau menitipkan uang itu?” tanya Qadhi Iyas.
“Saat itu hanya Alloh SWT yang menyaksikan kami,” kata penuntut itu.
“Di mana kau menyerahkan uang itu? Tanya Qadhi Iyas lagi.
“Di tempat sana,” kata orang itu sambil menunjukan tempatnya.
“Apa yang masih kau ingat dari tempat itu?” lanjut sang hakim.
“Ada pohon besar di sana,” jawabnya.
“Sekarang pergilah ke tempat itu, semoga Alloh SWT menampakkan tanda-tanda yang dapat membuat hakmu menjadi jelas,” perintah Qadhi Iyas sambil mendoakan.
Penitip uang itu segera bangkit dan pergi ke tempat yang dituju.  Dan Qadhi Iyas berkata kepada orang yang dituduh menerima titipan.
“Anda duduk di sini sampai ia datang.” Orang itu duduk menunggu, sementara Qadhi Iyas menyidang persoalan lain. Selang beberapa waktu berlalu, sang hakim itu bertanya kepada orang yang di tuntut menerima titipan uang itu.
“Menurutmu, kira-kira apakah orang yang menuntutmu sudah sampai ke tempat ia menyerahkan uang?”
“Kukira belum, belum sampai,” jawab orang itu, tanpa sengaja ia telah mengakui menerima titipan uang dengan jawaban yang menunjukan ia tahu dimana orang itu menyerahkan uang untuk dititipkan.

Dengan nada marah Qhadi Iyas berkata:
“Hai musuh Alloh SWT, demi Alloh kau benar-benar pengkhianat!”
Orang itu tampak ketakutan dan memohon:
“Tolong batalkan perkara ini, semoga Alloh memberimu kemudian.”
Sang hakim itu lalu memerintahkan orang itu untuk ditahan hingga si penuntut datang kembali.  Ketika si penuntut itu datang, sang hakim berkata:
“ Orang ini telah mengakui bahwa titipan itu ada padanya, ambillah!”


Seorang pelancong yang hendak menyebrangi Danau Thabariyah bertanya kepada seorang tukang perahu yang biasa mangkal di situ:
“Berapa ongkos menyeberang danau ini, Pak?”
“Dua ratus dolar,” jawab tukang perahu.
“Mahal sekali?” pelancong itu terkejut setengah tak percaya.
“Memang mahal, Pak.  Karena ini danau bersejarah.  Karena di danau inilah dulu Yesus pernah berenang,” kata tukang perahu itu.
“Wajar saja Yesus melakukan hal itu.  Karena ia merasa ongkos menyeberang danau ini terlalu mahal, maka ia menggunakan caaranya sendiri, “ kata pelancong itu.



Kata istri seorang arkeolog:
“Seorang arkeolog adalah suami terbaik bagi setiap wanita.  Karena semakin tua usia sang istri, ia akan semakin mencintai dan memperhatikannya.”



Suatu pagi, seorang Arsb pedalalman ikut shalat subuh berjamaah di sebuah masjid. Ketika itu, imam masjid membaca surat al-Baqoroh, padahal orang arab itu sedang terburu-terburu karena ada suatu kepentingan yang harus segera dilakukan.  Karena panjangnya surat al-Baqoroh, orang Arab itu tidak bisa memenuhi kepentingannya.  Esok harinya, ia kembali ikut shalat subuh brejamah di masjid yang sama.  Ketika imam masjid mulai membaca surat al-Fiil, orang Arab itu tak jadi ikut shalat shubuh berjamaah dan pergi sambil berkata:
“Ini pasti lebih lama lagi.  Kan al-Fiil lebih besar dari al-Baqoroh.”



Seorang mukmin cerdas terlibat perdebatan dengan seorang atheis.  Sang atheis itu bertanya:

“Anda percaya adanya Tuhan?”
“Ya, saya yakin dan sama sekali tidak meragukannya,” jawab si mukmin.
“Anda pernah melihat-Nya?” Tanya orang atheis itu.
“Tidak,” jawab si mukmin.
“Pernah mendengar suara-Nya?”
“Tidak.”
“Pernah mencium bau-Nya atau pernah menyentuh-Nya??”
“Tidak.”
“Bagaimana Anda bisa mempercayai keberadaan-Nya?” Tanya si atheis berikutnya.

Tanpa menjawab, si mukmin itu justru balik bertanya:

“Kalau begitu, apakah Anda pernah melihat akal Anda sendiri?”
“Tidak,” jawab si atheis.
“Pernah mencium baunya atau menyentuhnya?” Tanya si mukmin lagi.
“Tidak,” jawab si atheis dengan jawaban yang sama.
“Lalu bagaimana Anda bisa mengaku sebagai orang punya akal?” kata si mukmin.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar