Ibtasim (tersenyumlah),
begitulah kata pembuka Dr. Aidh Al-Qorni dari buku yang saya baca (Hiduplah
untuk Bahagia). Dr. Aidh Al-Qorni
mengutarakan kata Ibtasim adalah
sebuah kata indah dan penuh pesona.
Bagaimana seorang muslim tidak akan tersenyum, sementara ia menerima
sepenuh hati Alloh SWT sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad
SAW sebagai nabinya (Rodhitubillahi
Robba, wabil Islami dina, wabi Muhammadin nabiyyawwarosula). Bagaimana seorang muslim tidak akan tersenyum,
sedang Alloh SWT telah menyuburkan kebun-kebun yang hijau nan indah, pelbagai
jenis tumbuhan yang berpasangan tumbuh dengan eloknya, beludru yang indah turut
menghiasinya, serta aliran air turut menyempurnakan keindahannya. Bagaimana seorang muslim tidak akan
tersenyum, ketika Alloh SWT telah menciptakan bintang-bintang yang generlapan,
laut pasang dengan debur ombaknya, bentangan bumi dengan lembahnya, serta
planet-planet dengan gugusannya.
Bagaimana seorang muslim tidak akan tersenyum, ketika merdu kicau burung
dan merpati mengalun, matahari terbit dan bulan yang purnama, pagi menyapa
dengan secercah cahaya dan embun segarnya, dan hujan yang menerobos gumpalan
awan. Bagaimana seorang muslim tidak
akan tersenyum, ketika belaian semilir angin, lambaian dedaunan, nyanyian
burung kenari, semerbak pohon Uqhuwan, semerbak
aroma bunga-bunga, serta bisikan gemericik air di sela-sela bebatuan membacakan
ayat-ayat cinta dan mengisahkan kisah-kisah pesona.
Buku yang saya baca
“Hiduplah untuk Bahagia” begitulah judulnya, mengandung ulasan-ulasan yang
menyegarkan pikiran, teguran-teguran yang lucu, kelakar yang santun dengan
menyajikan aspek keluhuran ajaran agama dan membuang jauh segala kerendahan dan
kenistaan. Semuanya Dr. Aidh Al-Qorni
persembahkan untuk kita resapi bilhikmah,
agar kita dapat tersenyum di tengah pusaran badai dalam perjalanan menempuh
kehidupan yang penuh onak duri, dan di hari-hari yang tak lagi secerah kemarin
bahkan entah kapan menyapa hati kita.
Semoga Alloh SWT menebar kebahagiaan untuk kita. Selamat menjalani hidup dengan penuh canda
ceria, selamat tinggal duka, selamat tingal lara.
Orang-orang
Cina mengatakan dalam pesan bijak yang selalu diajarkan turun temurun, “Orang
yang tidak bisa tersenyum jangan membuka usaha.”
Abu
Darda’ berkata, “Tidak jarang saya menghibur hati saya denga canda yang wajar
(diperbolehkan) untuk membangkitkan motivasi dalam menegakkan kebenaran.”
Pesan
sebuah pepatah bijak (hikmah):
“Tersenyumlah
kepada orang yang memberi pinjaman uang, maka ia akan memberi kelonggaran. Tersenyumlah kepada sahabatmu, maka ia akan
memberikan pembelaan.”
Dalam
al-‘Aqd al-Farid dijelaskan bahwa
Yohana dan Syam’un termasuk kaum Hawariyyin (murid nabi Isa As.). Jika yohana duduk di sebuah majelis, ia
selalu hadir dengan humor-humor segarnya, sehingga membuat orang lain yang
hadir ikut tertawa. Sedang Syam’un hadir
dengan kesedihannya, sehingga membuat orang-orang yang hadir dalam majelisnya
ikut tenggelam dalam kesedihan. Suatu
ketika, Syam’un menegur Yohana.
“Anda
selalu tertawa seolah amal kebaikan Anda sudah banyak dan tidak perlu lagi
beramal.”
Yohana
menjawab, “Anda selalu sedih dan menangis seolah Anda sudah putus asa terhadap
rahmat Tuhan Anda.”
Maka
Alloh SWT menurunkan wahyu kepada nabi Isa As.: “Perilaku Yohana itulah yang lebih Aku senangi diantara dua sikap itu.”
Al-Ashmu’I
mengatakan: “Dengan bekerja kita dapat mencapai tujuan, dan dengan tersenyum
kita dapat meraihnya.”
Karena,
dengan tersenyum kita telah menggerakan tiga belas otot kita sekaligus.
Sebuah
penelitian menyimpulkan bahwa orang-orang yang sering tertawa dan murah senyum
adalah orang-orang yang paling sedikit mengalami pengerutan di kulit wajah karena
termakan usia.
Tawa adalah perilaku
yang menarik simpati
Dan keramahan saat
dimintai kemurahan hati
Engkau melihatnya
tampak berseri muka
Seolah Engkau telah memberi yang ia minta.
Saya bercanda dengan
canda yang wajar
Jika orang sedang
serius, maka saya juga serius.
Hasan
Al-Bashri berpesan bahwa hati ini bisa hidup dan bisa mati. Jika hidup, ajaklah untuk melakukan hal yang
disunnahkan. Jika ia mati, ajaklah untuk
melakukan yang diwajibkan.
Atha’
bin Saib menceritakan bahwa Sa’id bin Zubair pernah menyampaikan suatu kisah
sedih kepada kami, sehingga membuat kami menangis. Tidak lama setelah itu, ia membuat kami
tertawa.
Dalam
Faidh al-Katsir, Ahmad Amin
mengatakan, “Senyum bukan saja membuat seseorang lebih bahagia dengan keadaan
dirinya, tapi juga lebih mampu memikul tanggung jawab, lebih tangguh menghadapi
kesulitan, dan lebih kreatif dalam menyelesaikan masalah, serta lebih mampu
memberikan hal-hal besar yang bermanfaat kepada dirinya sendiri dan orang lain.
Jiwa
yang selalu mampu menghadirkan senyum akan melihat kesulitan dengan lebih
tenang untuk kemudian mengatasinya. Ia
akan melihat kesulitan sambil tersenyum, berikutnya menghadapinya dengan
senyum, kemudiaan mengatasinya dengan senyum pula. Sedang, jiwa yang gundah, ketika melihat
kesulitan, ia akan membesar-besarkannya.
Hal itu dapat mengerdilkan semangat untuk menghadapinya, sehingga ia
akan berusaha lari dari kesulitan itu, berlindung di balik tempat berlindungnya
sambil mengumpat situasi dan kondisi yang terjadi. Maka, komentar yang akan selalu keluar dari
mulutnya adalah “seandainya, jika, dan kalau saja”. Padahal, situasi dan kondisi yang ia kecam itu
merupakan hasil dari karakter yang membentuk kepribadiannya sendiri. Ia ingin sukses dalam kehidupan tanpa pengorbanan. Seolah ia selalu melihat ancaman yang siap
menyerang di sepanjang jalan kehidupan yang dilaluinya. Ia hanya bisa menunggu langit menurunkan
hujan emas dan mengharap bumi mengeluarkan harta karunnya.
Keputusasaan
adalah hal yang paling membuat jiwa sedih dan dan wajah kusut. Jika kita ingin selalu tersenyum, perangilah
keputusasaan. Bangunlah karakter
optimis, harapan yang terbentang luas, serta keyakinan akan datangnya kebaikan
di masa yang akan akan datang.
Dia
bilang, langit sedang mendung dan sama sekali tidak cerah.
Saya
bilang, tersenyumlah, cukup mendung itu di langit saja.
Dia
bilang, masa muda telah berlalu.
Saya
katakan, tersenyumlah.
Penyesalan
takan pernah mengembalikan masa muda yang telah berlal
Dia
katakana, senyum tidak akan bisa membuat siapapun bahagia. Ia hanya hadir di dunia dan pergi dengan
terpaksa.
Saya
bilang, tersenyumlah selama masih ada jarak sehasta antara kita dengan
kematian. Karena setelah itu takan ada
senyum dalam kehidupan.
[syair
indah Ilia Abu Madhi]
“Alloh
SWT menurunkan wahyu kepadaku agar kalian saling rendah hati, sehingga tidak
ada salah seorang yang berlaku curang kepada orang lain dan tak ada yang
membagakan diri atas yang lain.”
“Senyummu
dihadapan saudara (seagama) mu adalah sedekah”
“Sekiranya
engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu.” (QS. Ali Imron, 3:159)
Konon,
ada orang menitip uang kepada orang lain.
Lalu ia meminta kembali titipannya itu.
Tapi orang yang menerima titipan itu tidak mengaku telah menerima
titipan itu. Terpaksa penitip uang itu
mengadukan masalah tersebut kepada Qadhi Iyas.
Ia melaporkan:
“Saya meminta uang yang saya titipkan
kepadanya. Jumlahnya sekian.”
“Ada
saksinya ketika engkau menitipkan uang itu?” tanya Qadhi Iyas.
“Saat
itu hanya Alloh SWT yang menyaksikan kami,” kata penuntut itu.
“Di
mana kau menyerahkan uang itu? Tanya Qadhi Iyas lagi.
“Di
tempat sana,” kata orang itu sambil menunjukan tempatnya.
“Apa
yang masih kau ingat dari tempat itu?” lanjut sang hakim.
“Ada
pohon besar di sana,” jawabnya.
“Sekarang
pergilah ke tempat itu, semoga Alloh SWT menampakkan tanda-tanda yang dapat
membuat hakmu menjadi jelas,” perintah Qadhi Iyas sambil mendoakan.
Penitip
uang itu segera bangkit dan pergi ke tempat yang dituju. Dan Qadhi Iyas berkata kepada orang yang
dituduh menerima titipan.
“Anda
duduk di sini sampai ia datang.” Orang itu duduk menunggu, sementara Qadhi Iyas
menyidang persoalan lain. Selang beberapa waktu berlalu, sang hakim itu
bertanya kepada orang yang di tuntut menerima titipan uang itu.
“Menurutmu,
kira-kira apakah orang yang menuntutmu sudah sampai ke tempat ia menyerahkan
uang?”
“Kukira
belum, belum sampai,” jawab orang itu, tanpa sengaja ia telah mengakui menerima
titipan uang dengan jawaban yang menunjukan ia tahu dimana orang itu
menyerahkan uang untuk dititipkan.
Dengan
nada marah Qhadi Iyas berkata:
“Hai
musuh Alloh SWT, demi Alloh kau benar-benar pengkhianat!”
Orang
itu tampak ketakutan dan memohon:
“Tolong
batalkan perkara ini, semoga Alloh memberimu kemudian.”
Sang
hakim itu lalu memerintahkan orang itu untuk ditahan hingga si penuntut datang
kembali. Ketika si penuntut itu datang,
sang hakim berkata:
“
Orang ini telah mengakui bahwa titipan itu ada padanya, ambillah!”
Seorang
pelancong yang hendak menyebrangi Danau Thabariyah bertanya kepada seorang
tukang perahu yang biasa mangkal di situ:
“Berapa
ongkos menyeberang danau ini, Pak?”
“Dua
ratus dolar,” jawab tukang perahu.
“Mahal
sekali?” pelancong itu terkejut setengah tak percaya.
“Memang
mahal, Pak. Karena ini danau bersejarah.
Karena di danau inilah dulu Yesus pernah
berenang,” kata tukang perahu itu.
“Wajar
saja Yesus melakukan hal itu. Karena ia
merasa ongkos menyeberang danau ini terlalu mahal, maka ia menggunakan caaranya
sendiri, “ kata pelancong itu.
Kata
istri seorang arkeolog:
“Seorang
arkeolog adalah suami terbaik bagi setiap wanita. Karena semakin tua usia sang istri, ia akan
semakin mencintai dan memperhatikannya.”
Suatu
pagi, seorang Arsb pedalalman ikut shalat subuh berjamaah di sebuah masjid. Ketika
itu, imam masjid membaca surat al-Baqoroh, padahal orang arab itu sedang
terburu-terburu karena ada suatu kepentingan yang harus segera dilakukan. Karena panjangnya surat al-Baqoroh, orang Arab
itu tidak bisa memenuhi kepentingannya. Esok harinya, ia kembali ikut shalat subuh
brejamah di masjid yang sama. Ketika
imam masjid mulai membaca surat al-Fiil, orang Arab itu tak jadi ikut shalat
shubuh berjamaah dan pergi sambil berkata:
“Ini
pasti lebih lama lagi. Kan al-Fiil lebih
besar dari al-Baqoroh.”
Seorang mukmin cerdas
terlibat perdebatan dengan seorang atheis.
Sang atheis itu bertanya:
“Anda
percaya adanya Tuhan?”
“Ya,
saya yakin dan sama sekali tidak meragukannya,” jawab si mukmin.
“Anda
pernah melihat-Nya?” Tanya orang atheis itu.
“Tidak,”
jawab si mukmin.
“Pernah
mendengar suara-Nya?”
“Tidak.”
“Pernah
mencium bau-Nya atau pernah menyentuh-Nya??”
“Tidak.”
“Bagaimana
Anda bisa mempercayai keberadaan-Nya?” Tanya si atheis berikutnya.
Tanpa
menjawab, si mukmin itu justru balik bertanya:
“Kalau
begitu, apakah Anda pernah melihat akal Anda sendiri?”
“Tidak,”
jawab si atheis.
“Pernah
mencium baunya atau menyentuhnya?” Tanya si mukmin lagi.
“Tidak,”
jawab si atheis dengan jawaban yang sama.
“Lalu
bagaimana Anda bisa mengaku sebagai orang punya akal?” kata si mukmin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar