Minggu, 04 November 2012

Keadilan ditunjukan untuk semua makhluk ciptaanNya


 Gubernur Mesir, Amr bin Ash menggusur tanah milik kakek yahudi untuk dibangun mesjid yang megah dan besar. Kakek yahudi tidak menerimanya, karena tanah itu merupakan warisan satu-satunya dari orang tuanya. Lalu kakek yahudi itu pergi mencari khalifah Umar bin Khatab ra. Setelah bertemu, kemudian kakek itu menceritakan perihal kejadian yang diterimanya dari Gubernur Mesir dengan terisak. Khalifah Umar hanya memberinya tulang yang digoresnya, dan menyuruh kakek itu untuk mengasihkannya ke Gubernur Mesir, Amr bin Ash. Kakek yahudi itu pulang kembali ke Mesir, sepanjang perjalanan ia menggurutu tak habis-habisnya,,, jauh-jauh dari Mesir dengan mengadu masalah yang besar (baginya), hanya disuruh ngasih tulang ini, grghrhghrrhggrhhh. . . .
Sesampainya di Mesir, kakek yahudi itu memberikan apa yang dipesankan Khalifah Umar kepada Amr bin Ash. Ketika Amr membuka dan melihatnya, ia bergemetar hebat. Kakek yahudi itu hanya termangu kebingungan, dan bertanya kepada Amr. Lalu Amr berbicara dan meminta maaf atas ketidakadilan yang dilakukannya. Amr bercerita maksud perihal tulang yang dibawa kakek dari Kholifah Umar, bahwasannya kalau Amr bersikukuh untuk membangun tanah milik kakek yahudi yang tidak dapat izin dari kakek yahudi itu, maka Umar akan memerangi ketidakadilan tersebut hingga menjadi tulang. Maka dari itu, Amr menyuruh untuk merubuhkan bangunan mesjid yang megah itu, dan membangun kembali rumah kakek yahudi yang digusurnya.
Namun Subhanalloh, Hidayah Alloh SWT ada pada jalan yang benar, melalui pemaparan tulang Khalifah Umar oleh Gubernur Amr mengenai keagungan ajaran Islam tentang keadilan yang diterimanya. Kakek yahudi itu berkata, tidak Amr, jangan engkau hancurkan mesjid itu dan membangun kembali rumahku itu. Biarlah rumah Alloh itu berdiri megah di atas tanahku. . . dan  saksikanlah olehmu, , kakek itu bersyahadat dan menyatakan diri masuk Islam.

Allohu Akbar, Allohu ya kariiim,
Islam the best, Islam Rahmatallilalamin, Islam sempurna hingga keadilanpun milik semua makhluk Alloh, Allohu Akbar, sungguh keadilan milik Alloh .. .
Subhanalloh, walohualam bisshoab . . . 

*Disadur dari ceramah di radio (lupa :D

Sabtu, 03 November 2012

Renungan kehidupan


1.    Kenapa aku di uji?
Jawabnya: QS. Al-Ankabut, 29: 2-3;
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “kami telah beriman” dan mereka tidak diuji?. Dan sunguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Alloh pasti mengetahui orang-orang benar dan pasti mengetahui orang-orang dusta.”

2.    Kenapa aku tidak dapat yang aku pinta?
Jawabnya: QS.  Al-Baqoroh, 2: 216;
“.....Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Alloh Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak.”

3.    Kenapa ujian yang aku hadapi seberat ini?
Jawabnya: QS. Al-Baqoroh, 2: 286;
“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.....”

4.    Pusing deh jadinya?
Jawabnya: QS. Ali Imron, 3: 139;
“Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu yang beriman.”

5.    Aku sudah tak kuasa?
Jawabnya: QS. Yusuf, 12: 87;
“.....Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Alloh, hanyalah orang-orang kafir.”

6.    Lalu bagaimana aku harus menjalani hidup ini?
Jawabnya:
·            QS. Ali Imron, 3: 200;
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetapla\h bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Alloh agar kamu beruntung.”
·            QS. Al-Baqoroh, 2: 45;
“Dan mohon pertolongan kepada Alloh dengan sabar dan sholat. Dan sholat itu berat, kecuali bagi orang-orang khusuk.....”

7.    Jadi pada siapa aku harus berharap?
Jawabnya: QS. At-Taubah, 9:129;
“.....Cukuplah Alloh bagiku.....”

8.    Lalu apa yang akan aku dapatkan dari semua ini?
Jawabnya: QS. At-Taubah, 9: 111;
“....Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Alloh?.....”

SMS dari teman ^^
sedekat sahabat, berbagi manfaat . . .

Sepuluh shahabat yang di jamin masuk Surga


Diantara Orang-orang Mukmin itu ada golongan yang menepati apa yang dijanjikan kepada Alloh. Diantara mereka ada yang menemui ajalnya [ mati syahid ]. Dan di antara mereka yang menanti-nantinya [ untuk memperoleh syahid ]. Dan tiadalah mereka ingin menukar janji itu dengan yang lainnya. Al Ahzab, 33 : 23


1.  Abu Bakar Ash Shiddiq
     Sahabat  setia yang banyak berkorban

2.  Umar bin Al Khattab
     Pembeda antara yang Haq dan Bathil

3.  Utsman bin Affan
     Malaikat pun malu kepadanya

4.  Ali bi Abu Thalib
Singa Alloh yang di muliakan wajahnya

5.  Thalhah bin Ubadillaah
     Seorang syahid yang hidup

6.  Az Zubair bin Awwan
Seorang prajurit Alloh yang mengiringi Rasululloh saw

7.  Abdur Rahman bin Auf
Seorang yang berniaga dengan Tuhannya

8.  Sa’ad bin Abu Waqqash
     Pelempar panah pertama di jalan Alloh

9.  Abu Ubaidah bin Al Jarrah
     Seorang kepercayaan ummat ini

10. Said bin Zaid
Seorang Kekasih Tuhan yang Maha Pengasih

Jumat, 02 November 2012

Menolak Pesimisme


“Sesuatu” itu tidak akan behasil jika modalnya pesimism, karena pesimism membawa pada sebuah keputusasaan yang berujung pada kegagalan. Sebaliknya optimism merupakan salah satu modal keberhasilan, karena optimism akan memandang segalanya dengan sambutan gembira menuju pada keberhasilan. Tentunya, optimis yang berpijak pada realistis. Optimis sekaligus realistis.
Sekeras apapun kita bekerja, selalu ada jarak antara kenyataan dan harapan. Jarak ini menjadi tantangan yang harus dipenuhi Optimism sekaligus realistism. Asumsi tanpa bukti hanyalah sensasi belaka.
Kritis bisa melahirkan Optimism, sedangkan Sinis lebih menghadirkan Pesimism. Kritis merupakan bagian dari Solusi. Sedangkan Sinis bagian dari masalah, karena Sinis hanya melihat dari pandangan negatif tanpa bersedia secara fair memberikan apresiasi atas capaian yang positif. Kritis mengupayakan keefektifan, sedangkan Sinis berupaya untuk menjatuhkan.
"Sesuatu" itu perlu disimpulkan dan diberikan rekomendasi, agar optimism yang dibangun berujung pada kesuksesan, tidak semata slogan kosong, seperti perjuangan tanpa keberhasilan "ketercapaian".

Indrayana, Denny. 2011. Indonesia Optimis. Jakarta: BIP Kelompok Gramedia.