Selasa, 30 Oktober 2012

JENUH (study from jenuh :D


Kau tau ku jenuh, bahkan kaupun merasakan kejenuhan itu. Lantas apa yang mesti diperbuat, makin jenuh rasanya menpertanyakan apa yang mesti diperbuat. Lebih jenuh lagi saat ku tak bisa membohongi diri sendiri yang tak kuasa untuk kukuasai. Kejenuhan ini bertambah saat kukatakan maaf ku jenuh padamu.  Mauku tak menyakitimu dengan kata-kata jenuh yang kuucapkan padamu. Kutau kau telah  mengukir di dalam hati ini. Duhai cintaku, duhai pujaanku datanglah padaku, peluklah diriku, kutau kau begitu indah bagiku. Tapi entah, meski semua itu begitu indah tapi tetap ku masih merasakan kejenuhan ini. Taukah kini, sadarkah kau kuhindari. Merasakah kau, ku lain padamu saat ini. Ingin rasanya ku pergi menjauh darimu, karena kumerasa semuanya telah berubah menjadi berbeda. Tak kan ada lagi yang bisa menahan ku lagi, karena kutau kau pun merasa kejenuhan. Aku tak bisa, aku tak kuasa, aku tetap merasa jenuh. Jangan pernah kau sesali semua apa yang telah terjadi. Sudahlah sudah, lepaskan diriku. Semoga dengan kau melepaskanku, kejenuhan itu hilang entah kemana dengan sendirinya, meski membutuhkan waktu lama dan kau tau engkau tak kan terganti bagiku.


5 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. (nyambungkeun tulisan)
    Aku tidak tahu cinta punya berapa macam varian. Kau harus bertanya langsung pada hatiku, karena dialah yang satu hari menutup dan mengucap: “cukup”. Dia yang berkata: “aku tidak lagi jatuh, jalan ini sudah jadi jalan lurus. Teruskan maka aku mati, karena takdirku adalah jatuh. Bukan berjalan setapak datar apalagi mendaki.”
    Hati adalah air. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir.
    Aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati. Aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama-sama bergerak. Sebelum kita terlalu jengah dan akhirnya pisah dalam amarah.
    Jadi, aku tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. Yang kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih dari siapapun yang kutahu. Namun aku mengerontang kekeringan. Dan kini ku tersadar, aku butuh hujan itu. Lebih dari apapun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jujumpalitan hwhahhaaaa :D

      Sae2 nyambung euy,, leres cinta teh bgaikan air, mengalir dari tempat tingi k tempat yang lbih rendah. . .
      ktika berrada ditempat datar, cinta itu jenuh :D

      Like2 sambungan ceritana, keren nyambung juga k gravitasi :)

      Aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati. Aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama-sama bergerak. Sebelum kita terlalu jengah dan akhirnya pisah dalam amarah.

      Butuh hujan, air yang turun dari tempat yang tinggi :D

      Hapus