Selasa, 02 Juli 2013

Positivisme dan Non-Positivisme


Kesempatan ini ngomongin masalah positivisme apaan tuh wheheheeeee . . . Sepaham aku yang didenger dari pnjlasannya yakni positivisme itu apa yang nampak kelihatan itulah kejadiaannya dan itu hal yang benar. Metodologi ini katanya konstruk atau milik ataupun cara berfikir eksakta. Trus katanya karena tugas semua ilmu itu sama, maka semuanya menggunakan prinsip kerja yang sama sekalipun objek kajian bervariasi. Hal ini berbanding kebalik dengan ilmu sosial, maksudnya kalo sosial itu berbicara ada apa dibalik kejadian itu, itulah kebenarannya. Hmmmmm pusiiing hhheeeeee

But jika aku mencoba berfikir ya. Mungkin contohnya kayak Apel secara logikanya sudah pasti jatuh di bawah pohonnya. Namun secara kemungkinan lain walaupun kecil, bisa saja jatuhnya di bawah pohon yang lain karena beberapa sebab, contohnya dimakan kelelawar lalu jatuh di bawah pohon mangga, diterjang angin yg kencang (sebut saja badai), atau pohonnya berdampingan dengan pohon yang lain, bisa juga ibu yang habis belanja apelnya jatuh pas jalan di bawah pohon salak. Tapi aneeeh niiih kyaknya hahahaa (tmen2ku yang bilang mrs :D).

Mungkn ini lebih aneh kali ya, aku keinget sama sma peribahasa “buah gak bakal jauh jatuh dari pohonnya, begitupun anak katanya g bkal jauh dari orangtuanya”. UwoWWwwww nyelekit kana manah tah heumppp. Aku g stuju bgitu aj, rugi dong gue??? Tapi aku sangat bisa nerima peribahasa itu secara logis. Yap buah emang g bkal jauh jatuh dari pohonnya karena adanya unsur gravitasi bumi. Lagian dtanyain ke orang lain juga bilangnya ud pasti jtuh dket pohonnyalah, mun murag dihandapeun tangkal durenmh kiamat (bgtu kta slah satu tmenku yg aku sms :D).

Next about anak yg g bakal jauh dari orangtuanya juga aku setuju secara logika. So orangtua merupakan pranata sosial pertama bagi tumbuh kembangnya sang anak. Faktor lain mungkin karena tingkat ekonomi rendah jadi kebutuhan kesehatan, pendidikannya kurang yang mengakibatkan pola pikir sang anak g jauh dari orang tuanya. Tapiiii itu semua bukan kodratnya (yg g bisa diubah) sang anak, so secara sosial tergantung pada nasib (usaha, dan dapat diubah). Pada intinya, buah itu jatuh ga bakal jauh dari pohonnya, dan anak g bakal jauh dari orangtuanya merupakan hasil dari cara berfikir eksata yang secara logika pasti. Berbeda dengan sosial yang secara terus menerus dapat berubah (dinamis). 




Ngebicarain masalah materi, sedikiiiit g fokus hheeeeeeee.  Pertama dan selanjutnya yang ada dicatatan kuliah dan sepaham aku adalah sebagai berikut J, awalnya ngomongin maslah filsafat yang berarti cara berfikir radikal, menyeluruh, dan mendalam untuk memperoleh pengetahuan.  Kalo bicara filsafat kayaknya slalu dan pasti dibahas nih tiga pertanyaan filosofis, yakni apa yang ingin diketahui?,  Trus bagaimana cara memperolehnya?,  Sama apa gunanya itu?. 

Nah yang aku dapet dari strategi menyikapi masalah metodologi, kayaknya positivisme itu metodologi penelitian kuantitatif???  So pakenya responden sama random sampling, di mana hasil penelitian itu ap yang didapat dari responden.  Berbeda dengan kualitatif yang menjadikan informan sebagai subjek penelitian dan pencarian datanyapun sampai titik jenuh (maksudnya sampai bner2 gda yang dipertanyakan lagi) atau skeptis kah???, serta menggunakan teknik informannya purposive sampling alias tidak asal sembarangan maen comot buat dijadikan informan, tapi harus yang benar2 mengetahui atau yang paham betul.  Nah mungkin penelitian kualitatif itu mngunakan metodologi non positivisme karena ada apa dibalik sesuatu yang terlihat.

Ada apa dibalik diari :D mungkin ini metodologi Mrs. Ana memahami karakter banyak mahasiswanya.  The best dosen yehhhaaaaaaaaa . . .     
    
#HAHAhha kmh mangs, ceu . . . ada yang mau koment???

Kamis, 20 Juni 2013

North Country (Perjuangan Kisah Perempuan yang dilecehkan)



North Country merupakan film yang menceritakan Josey Aimes sebagai perempuan pekerja tambang milik perusahaan Pearson.  Josey hanya ingin mengurus dan menghidupi kedua anaknya dengan jerih payahnya sendiri.  Dalam ceritanya, Josey mengalami perang batin yang sangat kuat dan memilukan.  Di mana dia memutuskan untuk pergi dari rumah suaminya karena sikap kasar yang acapkali melukai fisiknya.  Karena apa daya, Josey tak bisa berbuat apa hidup bersama suaminya.  Hingga pada akhirnya, Josey memutuskan untuk pergi dan bekerja sebagai pekerja tambang yang gajinya 6 kali lipat lebih besar dari kerjaan sebelumnya sebagai tukang cuci rambut.
Josey dalam kisahnya, seorang perempuan yang memperjuangkan gender dalam masalah hukum gugatan kelas, pelecehan seksual.  Di mana, dia mengalami pelecehan seksual dan semua perempuan yang bekerja di sana mengalami hal yang sama, namun tidak berani menuntutnya, karena tidak ada undang-undang yang menlindungi mereka.  Termasuk temannya yang sangat kesal ingin menusuk para lelaki itu, namun dia enggan memperjuangkannya, karena apa daya jika kalah dia tidak akan sanggup untuk bertemu para lelaki yang setiap harinya akan bertemu dipertambangan tersebut.  Selain itu, dia tahu tak akan ada yang berani mendukung Josey, akibat dari kemiskinan struktural dan pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan yang memihak kaum miskin struktural tersebut.
Pertengahan kisahnya, Ibunya Josey pergi menjenguk ke rumahnya dan membawakan uang untuk biaya hidup sehari-hari.  Awalnya menolak, namun dengan argumen yang kuat dari ibunya, akhirnya Josey menerima.  Bagaimanapun yang memberikan uang adalah “kasih sayang” ibunya terhadap anaknya, seperti halnya Josey menyayangi Sammy dan Keren yang tak kan pernah musnah ditelan kondisi apapun.  Namun setelah itu, Ayahnya Hank merasa kerja kerasnya mencari uang hanya dihambur-hamburkan dengan memberikan uang itu kepada Josey anaknya yang tidak disukai karena beberapa alasan pada masanya.  Di sinilah ada peran lain dari seorang perempuan, ketika Ibunya Josey balik marah dengan mengatakan, “apakah selama ini saya menuntut pembayaran kepadamu atas cucian pakaian yang kamu pakai, Josey mempunyai dua anak dan tidak merampok bank, hanya ingin bekerja sepertimu”.  Wah pokoknya keren banget jiwanya Ibu Josey yang memang mempunyai hubungan batin dengan anaknya.  Susah kalo ceritain melalui tulisan, hmmm g keburu waktunya, tugasnya kaya banjir bandang akeh tenan koh Hhehee . . .
Inti cerita, Josey berusaha menuntut perusahaan tambang dan semua orang di dalamnya, tapi perjuangannya tidak mudah, karena awalnya tidak ada yang mau membantunya jadi saksi, termasuk perempuan yang lainnya yang bekerja di tambang itu. Ceritanya sih pake alur maju mundur, seluruh kisah dalam film adalah sebuah kesaksian di pengadilan dimana jossey menuntut perusahaan tambang itu.  Di persidangan ini pula terkuak masa lalau jossey yang pernah diperkosa guru nya saat masih SMA sampai hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki.  Konflik antara jossey dengan putranya serta konflik di akhir persidangan, di mana beberapa perempuan bahkan semua perempuan lain akhirnya mengaku dan mau bersaksi sebagai korban adalah yang paling mengharukan.  Selain perlindungan dari ayahnya ketika Josey berbicara di depan persidangan di tempat persidangan.
Pelajaran yang dapat diambil salah satunya, kita gak perlu takut untuk mengungkapkan kebenaran sepahit dan sesulit apapun itu.  Mengutip kata-kata Goetche, “Apapun yang dapat Anda lakukan atau ingin Anda lakukan, Mulailah !!! Keberanian memiliki kecerdasan, kekuatan, dan keajaiban di dalamnya”.  Selain itu, kasih sayang seorang ibu, antara ibunya Josey terhadap Josey sendiri, dan antara Josey dan anak-anaknya terutama Sammy sebagai anak yang tidak diharapkan dan diinginkan, tak kan pernah berkurang dan terbayangkan sedikitpun luka dan bebannya.  Begitupun pengakuan seorang ayah, karena Josey tetaplah putrinya yang kuat dan tak pernah membuatnya malu walaupu bekerja ditambang bersamanya dengan penuh cacian dan makian yang tidak seronoh yang berbeda jauh dengan perempuan yang bekerja di pabrik roti, etc.

 
Referensi:
Film “North Country” Sutradara: Niki Caro.

DESKRIPSI ANALISIS FILM “GENDER ROLES - MALE AND FEMALE” BRUNO BOZZETTO




Tulisan ini akan mendeskripsikan hasil dari analisis penulis terhadap film yang berjudul “Gender Roles - Male and Female” animasi karya Bruno Bozzetto.  Berawal dari pernyataan perempuan adalah feminim dan laki-laki adalah maskulin.  Dalam hal ini, perempuan dan laki-laki merupakan bagian dari jenis kelamin, serta feminim dan maskulin merupakan bagian dari sifat ataupun gender.  Perempuan dan laki-laki membedakan melalui karakter fisik tertentu yang di antara keduanya tidak dapat dipertukarkan serta bawaan dari lahir yang bersifat kodrati.  Sedangkan feminim dan maskulin merupakan hasil konstruksi sosial dan kultural  (interpretasi sosial-kultural atas jenis kelamin)  melalui proses sosialisi dalam kehidupan. Hal ini, dapat disimpulkan sesuai kutipan dari pernyataan dari Laswell[1], We are born male and female, but we learn to be masculine or feminine”.
Aturan gender dalam film tersebut, merupakan hasil dari konstruksi sosial dan kultural  (interpretasi sosial-kultural atas jenis kelamin)  melalui proses sosialisi yang tidak selalu benar atau tidak bersifat universal kebenarannya, melainkan tergantung kondisi dan kebudayaan setempat.  Namun ada generalitas pan kultural, di mana posisi perempuan hampir selalu tersubordinasi.  Dalam film, terdapat beberapa contoh yang mensubordinasikan perempuan, seperti halnya double burden yakni dicontohkan pulang kerja seorang perempuan harus tetap mencuci pakaian dan peralatan dapur, memasak, menyapu dan mengepel, menjemur, menyetrika dan pekerjaan rumah tangga lainnya.  Berbeda dengan laki-laki, sepulang kerja membuka kulkas mengambil minuman, duduk dan menonton siaran bola atau lainnya di tv, mengecek kerjaan kantor, dan tidur.  Selain itu, dalam perjalanan bisnis, seorang laki-laki digambarkan bebas bepergian mengelililngu dunia mulai dari Berlino sampe ke Tunisi, sedangkan perempuan terikat dalam pekerjaan rumah yang dianimasikan dengan perempuan yang diikat tali pada rumah.
Dalam animasi lain, perempuan dianimasikan dengan stereotype yang rempong, ribet, cerewet, berperasaan, mudah tersinggung atau nangisan, gak konsisten, bertele-tele, suka dandan, telatan, dan lainnya. Berbanding kebalik dengan laki-laki yang dinilai dengan simpel, cekatan, lugas, tegas, keras, to the point, dll.  Hal ini banyak digambarkan dalam animasi, agar lebih mudah, penulis akan membuat bagan yang menuliskan berbagai animasi dan penjelasannya.

TABEL. 1 Animasi perilaku perempuan dan wanita dalam berbagai kegiatan.
No
Kegiatan
Perilaku
Perempuan
Laki-laki
1
Berbicara
Cerewet, gak beraturan, rame seperti halnya agenda merumpi yang berkesan ngomongin orang lain dan tidak ada guna.

Keras, terarah, dan jelas.
2
Menonton acara film romatis
Menangis karena terharu, sedih, kasian, dsb.
Jenuh, bosan, terlalu bertele-tele, ngantuk, dan akhirnya tidur

3
Jalan-jalan
Ribet, bawaannya banyak, koper, tas, dll.
Simpel sekali g membawa apa-apa

4
Diet
Makanan di piring sendiri habis, makanin piring sebelahnya.
Makanan habis, hanya melihat piring seblahnya.

5
Janjian pukul 20.00
Daari mulai jam 17.00 sudah sibuk berdandan sampe waktu janjian kelewat. Jam 21.00 baru selesai

Jam 17.00 santai baca koran, jam 18.00-20.00 bersantai nonton tv. Kemudian pergi.
6
Berbicara dalam diskusi
Seperti halnya paduan suara, ngomongnya rame-rame
Digambarkan sedang berduel layaknya tinju, serius dll.

7
Menggoda
Muter sampai beberapa situasi dan kondisi dengan perubahan warna, setelah lama baru kemudian bertatap muka.

Langsung, to the point
8
Pergi ke toilet
Beramai-ramai
Sendirian.

9
Bawaan dalam tas
Semua peralatan kosmetik dan kecantikan dimasukin tas.
Rokok, sim, kunci, hp, dan alat penting seadanya.


10
Berbelanja
Sepanjang jalan melihat kanan kiri walaupun tujuan utamnay di ujung, bahkan stelah tujuan utamanya dapat mereka ngubek-ngubek semua isi toko.

Simpel,


Tabel tersebut berdasarkan analisis dari film, memaparkan stereotype yang seolah-olah wanita itu rempong.  Stereotype- stereotype dalam film tersebut, merupakan hasil konstruksi sosial dan kultural  atau adanya interpretasi sosial-kultural atas jenis kelamin melalui proses sosialisasi dan budaya suatu tempat tertentu.  Hal ini tidak semuanya benar dan tepat, karena terdapat beberapa laki-laki yang mempunyai sifat feminim yang merupakan hasil dari proses pembelajaran dalam kehidupan disekitarnya, katakan saja cowok bencong yang sedikit melambay-lambay.  Begitupun juga dengan perempuan, terdapat beberapa yang mempunyai sifat maskulin, biasa disebut tomboy.  Seperti halnya kutipan Laswell, yakni belajar untuk menjadi feminim dan maskulin.
Hubungan idealnya, antara perempuan dan laki-laki saling melengkapi satu sama lain, memahami hak-hak dan kewajiban dari tugas masing-masing.  Dalam hal ini, tugas-tugas dapat disepakati bersama seperti halnya urusan rumah tangga dapat dilakukan oleh perempuan bersamaan dengan laki-laki.  Begitupun dengan urusan mencari nafkah dapat dilakukan oleh laki-laki bersamaan dengan perempuan.  Di antara pekerjaan keduanya saling melengkapi sesuai kondisi yang terjadi. Dalam hal ini, pada film dianimasikan dengan seorang perempuan atau laki-laki yang berkakrir mempunyai kesamaan dalam urusan menyuci pakaian dan piring atau peralatan masak, memasak, menjemur, nyetrika, menyapu, mengepel, mengasuh, dll.  Selama pekerjaan itu dapat dilakukan bersama-sama, khususnya dalam rumah tangga, kenapa tidak, bukankah hidup berumah tangga itu untuk bersama-sama.  Kuncinya, saling memahami dan menyepakati untuk kebaikan bersama atas kondisi yang ada.  Seperti halnya animasi pada film, di mana keduanya antara lingkaran dan persegi empat bergabung “hybrid” melahirkan suatu yang lebih baik yakni bintang enam yang tersenyum.


Referensi video: Bruno Bozzetto: “Gender Roles - Male and Female”


[1] Catatan perkuliahan yng diampu oleh Dosen Rini Tri Widyastuti, M.Si. Pada hari Rabu, 13 Maret 2013 di lingkungan kampus FISIP Unsoed.