Tulisan ini akan
mendeskripsikan hasil dari analisis penulis terhadap film yang berjudul “Gender Roles - Male and Female” animasi
karya Bruno Bozzetto. Berawal dari
pernyataan perempuan adalah feminim dan laki-laki adalah maskulin. Dalam hal ini, perempuan dan laki-laki
merupakan bagian dari jenis kelamin, serta feminim dan maskulin merupakan
bagian dari sifat ataupun gender.
Perempuan dan laki-laki membedakan melalui karakter fisik tertentu yang
di antara keduanya tidak dapat dipertukarkan serta bawaan dari lahir yang
bersifat kodrati. Sedangkan feminim dan
maskulin merupakan hasil
konstruksi sosial dan kultural
(interpretasi sosial-kultural atas jenis kelamin) melalui proses
sosialisi dalam kehidupan. Hal ini, dapat disimpulkan sesuai kutipan dari
pernyataan dari Laswell[1], “We are born male and female, but we learn to be masculine
or feminine”.
Aturan gender dalam
film tersebut, merupakan hasil dari konstruksi sosial dan kultural
(interpretasi sosial-kultural atas jenis kelamin) melalui proses sosialisi yang tidak selalu
benar atau tidak bersifat universal kebenarannya, melainkan tergantung kondisi
dan kebudayaan setempat. Namun ada
generalitas pan kultural, di mana posisi perempuan hampir selalu
tersubordinasi. Dalam film, terdapat
beberapa contoh yang mensubordinasikan perempuan, seperti halnya double burden yakni dicontohkan pulang
kerja seorang perempuan harus tetap mencuci pakaian dan peralatan dapur,
memasak, menyapu dan mengepel, menjemur, menyetrika dan pekerjaan rumah tangga
lainnya. Berbeda dengan laki-laki,
sepulang kerja membuka kulkas mengambil minuman, duduk dan menonton siaran bola
atau lainnya di tv, mengecek kerjaan kantor, dan tidur. Selain itu, dalam perjalanan bisnis, seorang
laki-laki digambarkan bebas bepergian mengelililngu dunia mulai dari Berlino
sampe ke Tunisi, sedangkan perempuan terikat dalam pekerjaan rumah yang dianimasikan
dengan perempuan yang diikat tali pada rumah.
Dalam animasi lain,
perempuan dianimasikan dengan stereotype
yang rempong, ribet, cerewet,
berperasaan, mudah tersinggung atau nangisan,
gak konsisten, bertele-tele, suka dandan, telatan, dan lainnya. Berbanding
kebalik dengan laki-laki yang dinilai dengan simpel, cekatan, lugas, tegas,
keras, to the point, dll. Hal ini banyak digambarkan dalam animasi,
agar lebih mudah, penulis akan membuat bagan yang menuliskan berbagai animasi
dan penjelasannya.
TABEL. 1 Animasi perilaku perempuan dan
wanita dalam berbagai kegiatan.
|
No
|
Kegiatan
|
Perilaku
|
|
|
Perempuan
|
Laki-laki
|
||
|
1
|
Berbicara
|
Cerewet,
gak beraturan, rame seperti halnya agenda merumpi yang berkesan ngomongin
orang lain dan tidak ada guna.
|
Keras,
terarah, dan jelas.
|
|
2
|
Menonton
acara film romatis
|
Menangis
karena terharu, sedih, kasian, dsb.
|
Jenuh,
bosan, terlalu bertele-tele, ngantuk, dan akhirnya tidur
|
|
3
|
Jalan-jalan
|
Ribet,
bawaannya banyak, koper, tas, dll.
|
Simpel
sekali g membawa apa-apa
|
|
4
|
Diet
|
Makanan
di piring sendiri habis, makanin piring sebelahnya.
|
Makanan
habis, hanya melihat piring seblahnya.
|
|
5
|
Janjian
pukul 20.00
|
Daari
mulai jam 17.00 sudah sibuk berdandan sampe waktu janjian kelewat. Jam 21.00
baru selesai
|
Jam
17.00 santai baca koran, jam 18.00-20.00 bersantai nonton tv. Kemudian pergi.
|
|
6
|
Berbicara
dalam diskusi
|
Seperti
halnya paduan suara, ngomongnya rame-rame
|
Digambarkan
sedang berduel layaknya tinju, serius dll.
|
|
7
|
Menggoda
|
Muter
sampai beberapa situasi dan kondisi dengan perubahan warna, setelah lama baru
kemudian bertatap muka.
|
Langsung,
to the point
|
|
8
|
Pergi
ke toilet
|
Beramai-ramai
|
Sendirian.
|
|
9
|
Bawaan
dalam tas
|
Semua
peralatan kosmetik dan kecantikan dimasukin tas.
|
Rokok,
sim, kunci, hp, dan alat penting seadanya.
|
|
10
|
Berbelanja
|
Sepanjang
jalan melihat kanan kiri walaupun tujuan utamnay di ujung, bahkan stelah
tujuan utamanya dapat mereka ngubek-ngubek
semua isi toko.
|
Simpel,
|
Tabel tersebut berdasarkan analisis dari
film, memaparkan stereotype yang
seolah-olah wanita itu rempong. Stereotype-
stereotype dalam film tersebut, merupakan hasil konstruksi sosial dan kultural atau adanya interpretasi sosial-kultural atas jenis kelamin
melalui proses sosialisasi dan budaya suatu tempat tertentu. Hal ini tidak semuanya benar dan tepat, karena
terdapat beberapa laki-laki yang mempunyai sifat feminim yang merupakan hasil
dari proses pembelajaran dalam kehidupan disekitarnya, katakan saja cowok
bencong yang sedikit melambay-lambay. Begitupun juga dengan perempuan, terdapat
beberapa yang mempunyai sifat maskulin, biasa disebut tomboy. Seperti halnya kutipan Laswell, yakni belajar
untuk menjadi feminim dan maskulin.
Hubungan idealnya,
antara perempuan dan laki-laki saling melengkapi satu sama lain, memahami
hak-hak dan kewajiban dari tugas masing-masing.
Dalam hal ini, tugas-tugas dapat disepakati bersama seperti halnya
urusan rumah tangga dapat dilakukan oleh perempuan bersamaan dengan
laki-laki. Begitupun dengan urusan
mencari nafkah dapat dilakukan oleh laki-laki bersamaan dengan perempuan. Di antara pekerjaan keduanya saling
melengkapi sesuai kondisi yang terjadi. Dalam hal ini, pada film dianimasikan
dengan seorang perempuan atau laki-laki yang berkakrir mempunyai kesamaan dalam
urusan menyuci pakaian dan piring atau peralatan masak, memasak, menjemur,
nyetrika, menyapu, mengepel, mengasuh, dll.
Selama pekerjaan itu dapat dilakukan bersama-sama, khususnya dalam rumah
tangga, kenapa tidak, bukankah hidup berumah tangga itu untuk bersama-sama. Kuncinya, saling memahami dan menyepakati
untuk kebaikan bersama atas kondisi yang ada.
Seperti halnya animasi pada film, di mana keduanya antara lingkaran dan
persegi empat bergabung “hybrid”
melahirkan suatu yang lebih baik yakni bintang enam yang tersenyum.
Referensi
video: Bruno Bozzetto: “Gender Roles -
Male and Female”
[1]
Catatan perkuliahan yng diampu oleh Dosen Rini Tri Widyastuti, M.Si. Pada hari
Rabu, 13 Maret 2013 di lingkungan kampus FISIP Unsoed.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar