Kamis, 20 Juni 2013

DESKRIPSI ANALISIS FILM “GENDER ROLES - MALE AND FEMALE” BRUNO BOZZETTO




Tulisan ini akan mendeskripsikan hasil dari analisis penulis terhadap film yang berjudul “Gender Roles - Male and Female” animasi karya Bruno Bozzetto.  Berawal dari pernyataan perempuan adalah feminim dan laki-laki adalah maskulin.  Dalam hal ini, perempuan dan laki-laki merupakan bagian dari jenis kelamin, serta feminim dan maskulin merupakan bagian dari sifat ataupun gender.  Perempuan dan laki-laki membedakan melalui karakter fisik tertentu yang di antara keduanya tidak dapat dipertukarkan serta bawaan dari lahir yang bersifat kodrati.  Sedangkan feminim dan maskulin merupakan hasil konstruksi sosial dan kultural  (interpretasi sosial-kultural atas jenis kelamin)  melalui proses sosialisi dalam kehidupan. Hal ini, dapat disimpulkan sesuai kutipan dari pernyataan dari Laswell[1], We are born male and female, but we learn to be masculine or feminine”.
Aturan gender dalam film tersebut, merupakan hasil dari konstruksi sosial dan kultural  (interpretasi sosial-kultural atas jenis kelamin)  melalui proses sosialisi yang tidak selalu benar atau tidak bersifat universal kebenarannya, melainkan tergantung kondisi dan kebudayaan setempat.  Namun ada generalitas pan kultural, di mana posisi perempuan hampir selalu tersubordinasi.  Dalam film, terdapat beberapa contoh yang mensubordinasikan perempuan, seperti halnya double burden yakni dicontohkan pulang kerja seorang perempuan harus tetap mencuci pakaian dan peralatan dapur, memasak, menyapu dan mengepel, menjemur, menyetrika dan pekerjaan rumah tangga lainnya.  Berbeda dengan laki-laki, sepulang kerja membuka kulkas mengambil minuman, duduk dan menonton siaran bola atau lainnya di tv, mengecek kerjaan kantor, dan tidur.  Selain itu, dalam perjalanan bisnis, seorang laki-laki digambarkan bebas bepergian mengelililngu dunia mulai dari Berlino sampe ke Tunisi, sedangkan perempuan terikat dalam pekerjaan rumah yang dianimasikan dengan perempuan yang diikat tali pada rumah.
Dalam animasi lain, perempuan dianimasikan dengan stereotype yang rempong, ribet, cerewet, berperasaan, mudah tersinggung atau nangisan, gak konsisten, bertele-tele, suka dandan, telatan, dan lainnya. Berbanding kebalik dengan laki-laki yang dinilai dengan simpel, cekatan, lugas, tegas, keras, to the point, dll.  Hal ini banyak digambarkan dalam animasi, agar lebih mudah, penulis akan membuat bagan yang menuliskan berbagai animasi dan penjelasannya.

TABEL. 1 Animasi perilaku perempuan dan wanita dalam berbagai kegiatan.
No
Kegiatan
Perilaku
Perempuan
Laki-laki
1
Berbicara
Cerewet, gak beraturan, rame seperti halnya agenda merumpi yang berkesan ngomongin orang lain dan tidak ada guna.

Keras, terarah, dan jelas.
2
Menonton acara film romatis
Menangis karena terharu, sedih, kasian, dsb.
Jenuh, bosan, terlalu bertele-tele, ngantuk, dan akhirnya tidur

3
Jalan-jalan
Ribet, bawaannya banyak, koper, tas, dll.
Simpel sekali g membawa apa-apa

4
Diet
Makanan di piring sendiri habis, makanin piring sebelahnya.
Makanan habis, hanya melihat piring seblahnya.

5
Janjian pukul 20.00
Daari mulai jam 17.00 sudah sibuk berdandan sampe waktu janjian kelewat. Jam 21.00 baru selesai

Jam 17.00 santai baca koran, jam 18.00-20.00 bersantai nonton tv. Kemudian pergi.
6
Berbicara dalam diskusi
Seperti halnya paduan suara, ngomongnya rame-rame
Digambarkan sedang berduel layaknya tinju, serius dll.

7
Menggoda
Muter sampai beberapa situasi dan kondisi dengan perubahan warna, setelah lama baru kemudian bertatap muka.

Langsung, to the point
8
Pergi ke toilet
Beramai-ramai
Sendirian.

9
Bawaan dalam tas
Semua peralatan kosmetik dan kecantikan dimasukin tas.
Rokok, sim, kunci, hp, dan alat penting seadanya.


10
Berbelanja
Sepanjang jalan melihat kanan kiri walaupun tujuan utamnay di ujung, bahkan stelah tujuan utamanya dapat mereka ngubek-ngubek semua isi toko.

Simpel,


Tabel tersebut berdasarkan analisis dari film, memaparkan stereotype yang seolah-olah wanita itu rempong.  Stereotype- stereotype dalam film tersebut, merupakan hasil konstruksi sosial dan kultural  atau adanya interpretasi sosial-kultural atas jenis kelamin melalui proses sosialisasi dan budaya suatu tempat tertentu.  Hal ini tidak semuanya benar dan tepat, karena terdapat beberapa laki-laki yang mempunyai sifat feminim yang merupakan hasil dari proses pembelajaran dalam kehidupan disekitarnya, katakan saja cowok bencong yang sedikit melambay-lambay.  Begitupun juga dengan perempuan, terdapat beberapa yang mempunyai sifat maskulin, biasa disebut tomboy.  Seperti halnya kutipan Laswell, yakni belajar untuk menjadi feminim dan maskulin.
Hubungan idealnya, antara perempuan dan laki-laki saling melengkapi satu sama lain, memahami hak-hak dan kewajiban dari tugas masing-masing.  Dalam hal ini, tugas-tugas dapat disepakati bersama seperti halnya urusan rumah tangga dapat dilakukan oleh perempuan bersamaan dengan laki-laki.  Begitupun dengan urusan mencari nafkah dapat dilakukan oleh laki-laki bersamaan dengan perempuan.  Di antara pekerjaan keduanya saling melengkapi sesuai kondisi yang terjadi. Dalam hal ini, pada film dianimasikan dengan seorang perempuan atau laki-laki yang berkakrir mempunyai kesamaan dalam urusan menyuci pakaian dan piring atau peralatan masak, memasak, menjemur, nyetrika, menyapu, mengepel, mengasuh, dll.  Selama pekerjaan itu dapat dilakukan bersama-sama, khususnya dalam rumah tangga, kenapa tidak, bukankah hidup berumah tangga itu untuk bersama-sama.  Kuncinya, saling memahami dan menyepakati untuk kebaikan bersama atas kondisi yang ada.  Seperti halnya animasi pada film, di mana keduanya antara lingkaran dan persegi empat bergabung “hybrid” melahirkan suatu yang lebih baik yakni bintang enam yang tersenyum.


Referensi video: Bruno Bozzetto: “Gender Roles - Male and Female”


[1] Catatan perkuliahan yng diampu oleh Dosen Rini Tri Widyastuti, M.Si. Pada hari Rabu, 13 Maret 2013 di lingkungan kampus FISIP Unsoed.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar