Kesempatan ini ngomongin masalah positivisme
apaan tuh wheheheeeee . . . Sepaham aku yang didenger dari pnjlasannya
yakni positivisme itu apa yang nampak kelihatan itulah kejadiaannya dan
itu hal yang benar. Metodologi ini katanya konstruk atau milik ataupun
cara berfikir eksakta. Trus katanya karena tugas semua ilmu itu sama,
maka semuanya menggunakan prinsip kerja yang sama sekalipun objek kajian
bervariasi. Hal ini berbanding kebalik dengan ilmu sosial, maksudnya
kalo sosial itu berbicara ada apa dibalik kejadian itu, itulah
kebenarannya. Hmmmmm pusiiing hhheeeeeeBut jika aku mencoba berfikir ya. Mungkin contohnya kayak Apel secara logikanya sudah pasti jatuh di bawah pohonnya. Namun secara kemungkinan lain walaupun kecil, bisa saja jatuhnya di bawah pohon yang lain karena beberapa sebab, contohnya dimakan kelelawar lalu jatuh di bawah pohon mangga, diterjang angin yg kencang (sebut saja badai), atau pohonnya berdampingan dengan pohon yang lain, bisa juga ibu yang habis belanja apelnya jatuh pas jalan di bawah pohon salak. Tapi aneeeh niiih kyaknya hahahaa (tmen2ku yang bilang mrs :D).
Mungkn ini lebih aneh kali ya, aku keinget sama sma peribahasa “buah gak bakal jauh jatuh dari pohonnya, begitupun anak katanya g bkal jauh dari orangtuanya”. UwoWWwwww nyelekit kana manah tah heumppp. Aku g stuju bgitu aj, rugi dong gue??? Tapi aku sangat bisa nerima peribahasa itu secara logis. Yap buah emang g bkal jauh jatuh dari pohonnya karena adanya unsur gravitasi bumi. Lagian dtanyain ke orang lain juga bilangnya ud pasti jtuh dket pohonnyalah, mun murag dihandapeun tangkal durenmh kiamat (bgtu kta slah satu tmenku yg aku sms :D).
Next about anak yg g bakal jauh dari orangtuanya juga aku setuju secara logika. So orangtua merupakan pranata sosial pertama bagi tumbuh kembangnya sang anak. Faktor lain mungkin karena tingkat ekonomi rendah jadi kebutuhan kesehatan, pendidikannya kurang yang mengakibatkan pola pikir sang anak g jauh dari orang tuanya. Tapiiii itu semua bukan kodratnya (yg g bisa diubah) sang anak, so secara sosial tergantung pada nasib (usaha, dan dapat diubah). Pada intinya, buah itu jatuh ga bakal jauh dari pohonnya, dan anak g bakal jauh dari orangtuanya merupakan hasil dari cara berfikir eksata yang secara logika pasti. Berbeda dengan sosial yang secara terus menerus dapat berubah (dinamis).
Ngebicarain masalah materi, sedikiiiit g fokus hheeeeeeee. Pertama dan selanjutnya yang ada dicatatan kuliah dan sepaham aku adalah sebagai berikut J, awalnya ngomongin maslah filsafat yang berarti cara berfikir radikal, menyeluruh, dan mendalam untuk memperoleh pengetahuan. Kalo bicara filsafat kayaknya slalu dan pasti dibahas nih tiga pertanyaan filosofis, yakni apa yang ingin diketahui?, Trus bagaimana cara memperolehnya?, Sama apa gunanya itu?.
Nah yang aku dapet dari strategi menyikapi masalah metodologi, kayaknya positivisme itu metodologi penelitian kuantitatif??? So pakenya responden sama random sampling, di mana hasil penelitian itu ap yang didapat dari responden. Berbeda dengan kualitatif yang menjadikan informan sebagai subjek penelitian dan pencarian datanyapun sampai titik jenuh (maksudnya sampai bner2 gda yang dipertanyakan lagi) atau skeptis kah???, serta menggunakan teknik informannya purposive sampling alias tidak asal sembarangan maen comot buat dijadikan informan, tapi harus yang benar2 mengetahui atau yang paham betul. Nah mungkin penelitian kualitatif itu mngunakan metodologi non positivisme karena ada apa dibalik sesuatu yang terlihat.
Ada apa dibalik diari :D mungkin ini metodologi Mrs. Ana memahami karakter banyak mahasiswanya. The best dosen yehhhaaaaaaaaa . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar