Kamis, 25 Juli 2013

Terinjak dan Menginjak (Postulat Hegel)


Pada intinya, dalam masyarakat terdapat dua karakter pokok[1].  Pertama, setiap anggota masyarakat berusaha mengejar kepentingan pribadinya.  Dalam rangka memenuhi kepentingan pribadinya, anggota masyarakat lainnya dipandang sebagai sarana untuk meraih tujuannya.  Karakter pokok kedua, dalam rangka memenuhi kepentingan pribadinya tersebut mau tidak mau anggota masyarakat haruslah memuaskan kebutuhan dari anggota masyarakat lainnya.  Dengan demikian, terdapat dua makna yakni orang atau masyarakat yang terinjak dan yang menginjak.  Dari kedua karakter pokok ini, memang begitu adanya dalam menjalani sebuah kehidupan.   Namun demikian, ada sikap bijak atau pilihan ketiga di antara keduanya.  Orang yang terinjak merelakan dirinya diinjak demi seseorang yang membutuhkannya untuk mencapai sebuah tujuan yang baik.  Orang yang menginjak mau tidak mau harus menyadari dan mengapresiasi pengorbanan orang yang diinjaknya sehingga tercapailah tujuannya.  Pada dasarnya, dalam kehidupan adakalanya kita terinjak, ada kalanya kita yang menginjak.  Tingggal bagaimana kita meyikapinya dan bersikaplah sebijak mungkin.  Kuncinya saling menghargai, mengapreisasi pengorbanan, serta perjuangan di antara keduanya.

Semoga bermanfaat :)



1 Pendapat Hegel, dalam sebuah artikel yang diakses pada tanggal  04/10/2012, pukul 4: 21 di: http://www.inferensi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=44:pengantar-birokrasi-klasik-hegel-marx-dan-weber&catid=2:jurnal&Itemid=2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar