Rabu, 17 Juli 2013

PEMBANGUNAN Materialistik dan Idealistik: Ayam Sayur vs Ayam Kampung



Kegiatan pembangunan perlu diarahkan untuk merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik.  Perencanaan dan implementasi pembangunan seharusnya berisi usaha untuk memberdayakan masyarakat, sehingga mereka mempunyai akses pada sumber-sumber ekonomi sekaligus politik.  Pada kenyataannya, medan perang melawan kemiskinan dan kesenjangan yang utama sesunggunya berada di desa.  Urbanisasi dengan segala dimensinya tidak memecahkan permasalahan di desa.  Hal ini tidak menyatakan bahwa pembangunan kota tidak penting, melainkan ingin memberi penekanan bahwa akses masyarakat desa pada sumber-sumber ekonomi sangat memprihatinkan. Dengan demikian, usaha memberdayakan masyarakat desa serta perang melawan kemiskinan dan kesenjangan di pedesaan harus di utamakan dalam pengagendaan pembangunan untuk masa depan.[1]

Realitas pembangunan masyarakat merupakan salah satu bentuk proses perubahan sosial.  Perubahan sosial berlangsung secara terus menerus dari waktu ke waktu baik direncanakan ataupun tidak.  Pada dasarnya, masyarakat selalu mengalami perubahan.  Bedanya, ada masyarakat yang perubahannya cepat, ada juga sebaliknya yang perubahannya lamban.  Hal itu, disebabkan karena dalam masyarakat terdapat banyak faktor-faktor yang mendorong maupun menghambat dalam proses perubahan.  Pada umumnya, faktor pendorong perubahan perubahan dapat dibedakan dari yang bersifat materialistik sampai yang bersifat idealistik[2].  Dalam kenyataannya, salah satu di antara faktor tersebut berposisi sebagai pemicu awal.  Dengan demikian, dalam proses perubahan berikutnya akan diikuti oleh faktor-faktor yang lainnya.

Sumber materialistik pada umumnya berasal dari perubahan dalam proses produksi dan perubahan teknologi yang mendorong timbulnya perubahan-perubahan bersifat multidimensi[3].  Dalam kehidupan masyarakat, sebagai contoh munculnya teknologi dapat berdampak baik bagi munculnya peluang baru maupun berkurangnya peluang yang sudah ada.  Munculnya peluang baru dan alternatif baru dapat dilihat dari adanya berbagai sumber daya yang tadinya masih bersifat laten dan belum dimanfaatkan, karena dengan kemajuan teknologi menjadi dapat diolah dan  diambil manfaatnya.  Sebaliknya, berkurangnya peluang dapat berdampak kepada berkurangnya pekerja akibat dari penggunaan teknologi yang padat modal.  Pada sisi lain, kemajuan teknologi dapat mendorong perubahan struktur dalam masyarakat.  Dengan kemajuan teknologi informasi, mengakibatkan beberapa bentuk relasi sosial yang tadinya harus dilakukan dengan tatap muka dapat berubah menjadi hubungan berperantara dan tidak langsung.  Namun di sisi lain, selain sebagai sarana peningkatan kesejahteraan, penggunaan teknologi yang tidak bertanggungjawab dapat mengakibatkan masalah baru.  Masalah pencemaran udara dengan kandungan monoksida yang tinggi akibat dari padatnya kendaran bermotor, pencemran air akibat dari pengelolaan limbah yang semrawut, pencemaran tanah serta suara akibat dari penggunaan teknologi yang berlebihan dan tidak bijak dalam pengelolaannya.  Dengan demikian, dalam membuat perencanaan pembangunan yang baik tidak saja memprediksi peluang yang akan didapat.  Melainkan juga memprediksi dampak perubahan berupa masalah dan tantangan yang akan dihadapi.

Berbeda dengan sumber idealistik yang pada umunya berupa non material, yakni berupa nilai, kepercayaan dan ideologi.  Nilai merupakan sesuatu yang dianggap baik, oleh karenanya nilai dapat menjadi orientasi sikap, perilaku yang termanisfetasikan ke dalam bentuk relasi sosial.  Perubahan nilai dapat mendorong masyarakat lebih terbuka dalam mengadopsi ide dan gagasan baru.  Bahkan perubahan nilai dapat memengaruhi kehidupan masyarakat termasuk struktur sosial dan dan relasi sosialnya pada ruang lingkup global.  Pada perkembangan terkahir nilai demokrasi, HAM telah mewarnai bukan saja dalam wacana melainkan tatanan kehidupan global.  Dalam wacana pembangunan, munculnya nilai kelestarian mendapingi nilai maksimal dalam eksploitasi dan eksplorasi SDA.  Dengan demikian, dalam mendorong proses perubahan bukan hanya menonjolkan bagaimana SDA dapat dimanfaatkan secara optimal guna mengejar pertumbuhan ekonomi, melainkan juga perlu tetap dijaga kelestariannya.  Berdasarkan pandangan tersebut, kemudian muncul persfektif pembangunan yang berwawasan lingkungan atau pembangunan berkelanjutan.[4]

Dalam proses perubahan yang terjadi, keduanya yakni materialistik dan idealistik dapat berjalan seiring dan saling mendukung serta saling menyesuaikan.  Hal ini, dapat memberikan keseimbangan yang membuat kekuatan di dalamnya.  Namun demikian, tidak dapat diingkari pula bahwa dalam kenyataannya perubahan materialistik cenderung lebih mudah dan cepat dibandingkan perubahan idealistik terutama dalam perubahan nilai.  Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa dalam perkembangannya sering ditemukan gejala cultural lag, yang berupa terlambatnya perubahan idealistik dalam menyesuaikan diri terhadap kecepatan perubahan materialistik.[5]  Mengenai hal ini, ada analogi atau anekdot yang menggelikan mengenai kedua sumber tersebut.  Ibaratnya, perubahan materialistik dilogikan dengan pertumbuhan ayam sayur yang sangat cepat dan dagingnya yang montok.  Namun tidak dapat kita pungkiri, bahwasannya kualitas daging ayam sayur tidak seenak ayam kampung yang pertumbuhannya lama.  Hal ini, ayam kampung merupakan bagian dari sumber idealistik, yakni kualitas daging yang enak namun memerlukan waktu pertumbuhan yang lama.  Sama seperti halnya pertumbuhan di zaman Soekarno yang lebih membangun ideologi kebangsaan sebagai sumber idealistik, dan Soeharto sebagai bapak pembangunan yang lebih mengutamakan pembangunan materialistik. Jika kekuatan-kekuatan ekonomi, organisasi, dan politik hanya membawa akibat yang tidak menentu dan pengaruhnya marjinal terhadap tingkat hidup kelompok-kelompok termiskin, manakah kebijaksanaan sosial yang bisa dianut.[6]





1 Usman Sunyoto, Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012). 31.


2 Soetomo, Pembangunan Masyarakat: merangkai sebuah kerangka (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 43.


3 Soetomo. 2009. 44.


4 Soetomo. 2009. 45-46.


5 Soetomo. 2009. 46-47.


6 Sajogyo, Bunga Rampai Perekonomian Desa (Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Institut Pertanian Bogor, 1982) 75.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar