Kegiatan
pembangunan perlu diarahkan untuk merubah kehidupan mereka menjadi lebih
baik. Perencanaan dan implementasi
pembangunan seharusnya berisi usaha untuk memberdayakan masyarakat, sehingga
mereka mempunyai akses pada sumber-sumber ekonomi sekaligus politik. Pada kenyataannya, medan perang melawan
kemiskinan dan kesenjangan yang utama sesunggunya berada di desa. Urbanisasi dengan segala dimensinya tidak
memecahkan permasalahan di desa. Hal ini
tidak menyatakan bahwa pembangunan kota tidak penting, melainkan ingin memberi
penekanan bahwa akses masyarakat desa pada sumber-sumber ekonomi sangat
memprihatinkan. Dengan demikian, usaha memberdayakan masyarakat desa serta
perang melawan kemiskinan dan kesenjangan di pedesaan harus di utamakan dalam
pengagendaan pembangunan untuk masa depan.[1]
Realitas pembangunan masyarakat merupakan
salah satu bentuk proses perubahan sosial.
Perubahan sosial berlangsung secara terus menerus dari waktu ke waktu baik
direncanakan ataupun tidak. Pada
dasarnya, masyarakat selalu mengalami perubahan. Bedanya, ada masyarakat yang perubahannya
cepat, ada juga sebaliknya yang perubahannya lamban. Hal itu, disebabkan karena dalam masyarakat
terdapat banyak faktor-faktor yang mendorong maupun menghambat dalam proses
perubahan. Pada umumnya, faktor
pendorong perubahan perubahan dapat dibedakan dari yang bersifat materialistik
sampai yang bersifat idealistik[2]. Dalam kenyataannya, salah satu di antara
faktor tersebut berposisi sebagai pemicu awal.
Dengan demikian, dalam proses perubahan berikutnya akan diikuti oleh
faktor-faktor yang lainnya.
Sumber materialistik pada umumnya berasal
dari perubahan dalam proses produksi dan perubahan teknologi yang mendorong
timbulnya perubahan-perubahan bersifat multidimensi[3]. Dalam kehidupan masyarakat, sebagai contoh
munculnya teknologi dapat berdampak baik bagi munculnya peluang baru maupun
berkurangnya peluang yang sudah ada.
Munculnya peluang baru dan alternatif baru dapat dilihat dari adanya
berbagai sumber daya yang tadinya masih bersifat laten dan belum dimanfaatkan,
karena dengan kemajuan teknologi menjadi dapat diolah dan diambil manfaatnya. Sebaliknya, berkurangnya peluang dapat
berdampak kepada berkurangnya pekerja akibat dari penggunaan teknologi yang
padat modal. Pada sisi lain, kemajuan
teknologi dapat mendorong perubahan struktur dalam masyarakat. Dengan kemajuan teknologi informasi, mengakibatkan
beberapa bentuk relasi sosial yang tadinya harus dilakukan dengan tatap muka
dapat berubah menjadi hubungan berperantara dan tidak langsung. Namun di sisi lain, selain sebagai sarana
peningkatan kesejahteraan, penggunaan teknologi yang tidak bertanggungjawab
dapat mengakibatkan masalah baru.
Masalah pencemaran udara dengan kandungan monoksida yang tinggi akibat
dari padatnya kendaran bermotor, pencemran air akibat dari pengelolaan limbah
yang semrawut, pencemaran tanah serta suara akibat dari penggunaan teknologi
yang berlebihan dan tidak bijak dalam pengelolaannya. Dengan demikian, dalam membuat perencanaan
pembangunan yang baik tidak saja memprediksi peluang yang akan didapat. Melainkan juga memprediksi dampak perubahan
berupa masalah dan tantangan yang akan dihadapi.
Berbeda dengan sumber idealistik yang pada
umunya berupa non material, yakni
berupa nilai, kepercayaan dan ideologi.
Nilai merupakan sesuatu yang dianggap baik, oleh karenanya nilai dapat
menjadi orientasi sikap, perilaku yang termanisfetasikan ke dalam bentuk relasi
sosial. Perubahan nilai dapat mendorong masyarakat
lebih terbuka dalam mengadopsi ide dan gagasan baru. Bahkan perubahan nilai dapat memengaruhi
kehidupan masyarakat termasuk struktur sosial dan dan relasi sosialnya pada
ruang lingkup global. Pada perkembangan
terkahir nilai demokrasi, HAM telah mewarnai bukan saja dalam wacana melainkan
tatanan kehidupan global. Dalam wacana
pembangunan, munculnya nilai kelestarian mendapingi nilai maksimal dalam
eksploitasi dan eksplorasi SDA. Dengan
demikian, dalam mendorong proses perubahan bukan hanya menonjolkan bagaimana
SDA dapat dimanfaatkan secara optimal guna mengejar pertumbuhan ekonomi,
melainkan juga perlu tetap dijaga kelestariannya. Berdasarkan pandangan tersebut, kemudian
muncul persfektif pembangunan yang berwawasan lingkungan atau pembangunan
berkelanjutan.[4]
Dalam proses perubahan yang terjadi, keduanya
yakni materialistik dan idealistik dapat berjalan seiring dan saling mendukung
serta saling menyesuaikan. Hal ini,
dapat memberikan keseimbangan yang membuat kekuatan di dalamnya. Namun demikian, tidak dapat diingkari pula
bahwa dalam kenyataannya perubahan materialistik cenderung lebih mudah dan
cepat dibandingkan perubahan idealistik terutama dalam perubahan nilai. Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa
dalam perkembangannya sering ditemukan gejala cultural lag, yang berupa terlambatnya perubahan idealistik dalam
menyesuaikan diri terhadap kecepatan perubahan materialistik.[5] Mengenai hal ini, ada analogi atau anekdot
yang menggelikan mengenai kedua sumber tersebut. Ibaratnya, perubahan materialistik dilogikan
dengan pertumbuhan ayam sayur yang sangat cepat dan dagingnya yang montok. Namun tidak dapat kita pungkiri, bahwasannya
kualitas daging ayam sayur tidak seenak ayam kampung yang pertumbuhannya
lama. Hal ini, ayam kampung merupakan
bagian dari sumber idealistik, yakni kualitas daging yang enak namun memerlukan
waktu pertumbuhan yang lama. Sama
seperti halnya pertumbuhan di zaman Soekarno yang lebih membangun ideologi
kebangsaan sebagai sumber idealistik, dan Soeharto sebagai bapak pembangunan
yang lebih mengutamakan pembangunan materialistik. Jika kekuatan-kekuatan ekonomi, organisasi, dan politik
hanya membawa akibat yang tidak menentu dan pengaruhnya marjinal terhadap
tingkat hidup kelompok-kelompok termiskin, manakah kebijaksanaan sosial yang
bisa dianut.[6]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar