Teknologi
secara keseluruhan merupakan suatu produk interaksi sosial dan pengaturan
kelembagaan yang dilokalisir melalui struktur kekuatan sosial dan proses
sosial, politis, dan perubahan ekonomi. Selama
beberapa dekade pasca kemerdekaan,
media informasi di Indonesia berkembang secara paralel dengan kepentingan
negara yang memanfaatkan media sebagai alat untuk melegitimasi dan
mempertahankan identitasnya sebagai "negara
pembangunan" yang progresif. Ketika
teknologi yang dikenal sebagai Internet tiba-tiba muncul di Indonesia,
teknologi ini datang dalam kontak dengan konsep ''kemasyarakatan'' yang pada
saat teknologi ini digunakan dan diubah dalam jalan yang unik. Internet telah sangat sesuai berkembang di
Indonesia dengan keunikan sendiri dari praktek dan karakteristiknya, diubah
oleh struktur kekuasaan lokal terkait dengan tiga bidang dalam masyarakat,
yaitu negara, perusahaan ekonomi, dan masyarakat sipil.
Internet, yang datang ke Indonesia
selama fase awal krisis politik pada 1990-an, ekonomi dan politik telah
meningkat menjadi media alternatif yang tidak lagi di bawah kontrol negara,
sehingga memperkuat masyarakat sipil dalam melakukan perlawanan terhadap negara
dan dominasi perusahaan. Sebagai teknologi, Internet merupakan sumber informasi
netral yang paling sederhana. Karena
tujuannya menyangkut diskusi di dalamnya, maka hal itu menjadi sangat lebih
penting dari hanya suatu sumber gambaran, lambang ideologis, dan penyajian
kuasa. Dengan demikian, Internet menjadi
bagian dari suatu jaringan lokasi mengenai sosial, politis, dan persaingan
ekonomi dari representasi dan manifestasi kekuatan mereka.[1]
Teknologi internet melalui media
teknologi, membawa arus globalisasi terhadap perkembangan kehidupan sosial diseluruh
dunia bagi yang mengaksesnya. Melalui
media teknologi ini, komunikasi sosial pada awalnya, dapat berlangsung dengan
mudahnya tanpa mengenal ruang dan waktu, bahkan antar negara sekalipun. Dalam perkembangannya, komunikasi tersebut
dipenuhi dengan berbagai kepentingan.
Mengutip dalam buku Anwar Arifin,[2]
Nimmo melakukan sebuah analisis terhadap formulasi Lasswell mengenai siapa,
berkata apa, kepada siapa, melalui saluran apa, dan bagaimana efeknya untuk
menjelaskan ruang lingkup komunikasi politik. Dalalm hal ini, Nimmo berpendapat yang
dimaksud siapa itu adalah komunikator politik, berkata apa itu merupakan
pesan-pesan yang disampaikan komunikator politik, melalui media komunikasi
politik itu melalui saluran apa, khalayak politik itu kepada siapa, dan efek
politik itu dari bagaimana efeknya. Komunikasi
politik merupakan proses komunikasi massa dan elemen-elemen di dalamnya yang
mungkin mempunyai dampak terhadap perilaku politik. Dalam hal ini, Davis mebagi komunikasi politik
menjadi komunikasi massa dan sosialisasi politik, komunikasi massa dan
pemilihan umum, komunikasi dan informasi politik, penggunaan media dan proses
politik, dan kontruksi realitas politik dan masyarakat[3].
Dengan demikian, teknologi media
merupakan salah satu fenomena kekuasaan sebagai sumber daya politik yang
mempengaruhi kehidupan sosial politik, termasuk di dalamnya kehidupan ekonomi
dan budaya.
1 Lim, Merlyna. “From War-net to Net-war: The Internet and Resistance
Identities in Indonesia”. 2003. Pdf. Utpublication: http://doc.utwente.nl/ repository@utwente.nl. Diakses tanggal 13 Juni 2012, pada Jam
21:11.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar